Selasa, 05 Februari 2013

Rabu dan rabu

Tuan, ini hari rabu,
Aku mulai sibuk memikirkan.
Apa yang tengah terjadi disini.
Didalam dada ini.
Seketika gemuruh menggelayut.
Menyentuh nuraniku yang sayu.
Berdendang gemulai menarikan seonggok kerinduan yang lunglai.
Kamu masih saja disini.
Didalam otak ini.
Menyulut rindu-rindu yang kian menggema.
Menuliskan agungnya cinta yang tak terhingga.
Sungguh..
Masih ada rabu senja yang mungkin tak akan mungkin aku lupa....

Lagi-lagi, Rabu lagi !!

Jika kamu adalah rindu.
Berikan aku sesuatu untuk merengkuhmu.
Jalan ini kian terjal.
Tak urung jua hendak menepi.
Peluh yang mengucur.
Menuntut untuk terus berlari.
Terbebani.
Masih sama .
Seperti ini.
Seperti riuh yang mengayuh.
Dan cinta yang meronta.
Menyibak diantara dedaunan senja.
Dan muncul dengan keraguan tak terduga.
Dan saat itu, hari merangkak menyerbu malam.
Mencuri waktumu, hanya untuk bertemu.
Hanya senja dan aku yg tau.
Saat itu.
Rabu. !

Senin, 29 Oktober 2012

BENDA ERGASTIK

yunita adiasa: benda ergastik: BENDA ERGASTIK   Pendahuluan Benda ergastik adalah bahan non protoplasma, baik organik maupun ...

Sabtu, 06 Oktober 2012


Merasa air mata itu terbayar lunas tuntas.
Atas segala kehidupan yg keras.
Dan kisah cinta yang pedas.
Gelora rindu yang dulu cadas.
Kini luruh dan hancur tergilas.
Kau bukan lagi penghancur emosiku.
Bukan pula aktor dalam rangkaian mimpiku.
Kupikir, tak ada lagi episode yang menayangkan aktingmu.
Cukup senyum simpul sore itu.
Saat tatap mata kita menyatu.
Dan mungkin sama sama menggenggam ragu.
Kaku dan entahlah ku mulai tak tau.
Silahkan jemput sesuatu yang kau tunggu itu.
Yang kau sebut sebagai wujud dari do'a mu.
Dan terimakasih telah berperan dalam proses ini.
Proses keras yang mendewasakan diri.
Terimakasih atas waktu yang mengoyak rindu.
Dan seutas tali yang memadu simpul senyum separuhmu.
Aku, akan tetap bersama puisi-puisiku.
Untuk terus bersyair dan menyusun serpihan kehidupan yang terpendar.
Tapi bukan untuk mengenangmu.
BUKAN.!
SeLamat MaLam kamu. !
Getir..

Kamis, 30 Agustus 2012


Nantikan kehadiranmu lagi. 

Lewat bait puisi yang kau ikat rapi. 
Dengan ribuan majas 
yang membingkai menghiasi. 
Kini pagi telah kembali datang. 
Dengan mengusir senja yang diikuti kelamnya malam. 
Menjelma lelah menjadi kerinduan 


akan sajak sajakmu yang hilang.
Kau telah ajari aku tentang sikap dan kebijaksanaan.
Sekarang aku mengerti kenapa kau menghilang.
Semata mata untuk menjemput keagungan cinta 


yang dibalut kesejatian.
Bukan demi aku,


tapi demi dirimu 


dan atas nama Tuhanmu.

Rabu, 29 Agustus 2012

Lagi..

Gadis itu menyapaku kembali.

Ia telah mendengar serentetan cerita 

dalam naskah dramaku ini.

Mungkin aku telah mengemasnya 

dengan cara ala pujangga.

Merendanya dengan rangkaian majas 

yang menjadikannya bait bait yang mempesona.
Tapi gadis itu tetap terpekur.

Mendengar ocehan lara dari mulutku 

yang mungkin tak akan berhenti bertutur.

Membagi duka dengan segenap luka yang ada.

Dengan lagu lagu sendu yang berirama syahdu.
Dan ia pun termangu.

Ku tau ia inginkan pelangi datang bersama mentari.

Bernyanyi, menari, dan berdendang meluruhkan semua emosi.


Diatas hamparan bumi, dengan langit biru yang menaungi.

Bait-baitku adalah serdadu yang mewakiliku.

Mengungkapkan segenap rasa yang tersimpan dikedalaman jiwa.

Menyanyikan lagu bahagia.

Dan juga meneriakkan rintihan lara.

Semoga kau baik-baik saja.

Esok pasti kita jelang fajar dengan senyum yang berirama gembira.

Mari bernyanyi.

Dan tetap menyanyikan lagu pelangi, 

apapun suasana hati.

Penghujung Gundah

Kau yang sederhana, 
memilin kata menjadi syair yang cantik tiada tara.
Gundah dan gulana itu telah tiada,

menjelma menjadi harapan harapan rumit
yang ingin menyatakan eksistensi,
mendorong tangan, kaki dan hati untuk lalu beraksi.
Lilin pelita itu telah padam,

kuganti dengan obor
yang semoga menjadi kobaran dahsyat yang menggelora..
Terimakasih.
Darimu bukan aku temukan respon yg menyenangkan,

tetapi menyelamatkan.
*tetap ajari aku untuk menjadi bijaksana.