Sudah lelah aku memohon.
Meminta sekeping tawa dari kerasnya kehidupan.
Ia begitu kikir.
Hanya sekeping yang kupinta.
Pun tak ia beri.
Aku lelah mendengarnya.
Irama hati yang begitu nanar dan mengiris.
Akan kubuang naskah kumal ini.
Naskah yg menjadi duri dalam panggung dramaku.
Sudah.
Mungkin sudah kering air mataku.
Atau mungkin malah masih tertahan dan tak mau mengalir keluar.
Menikmati kesedihan mendalam yg sedang ricuh mengoyak pikiranku.
Aku hanya punya satu harap.
Ya .. satu saja.
Melihat kembali esok hari dengan rekahan fajar.
Menyembul membelah mega yang masih kelabu.
Berpendar dan berpijar dengan belaiannya yang hangat menenangkan.
Merubah langit ufuk menjadi saga.
Merubah kealm menjadi binar mempesona.
Dan aku tak mau lagi menemui senja.
Yang mengabarkan pada gelap yang gulita.
Yang merubah biru menjadi saga.
Lalu membawaku pada nyanyian malam yang terlunta.
Jika semua ini mimpi,
Bangunkan aku dengan keras,
Agar aku bisa lekas bergegas.
Meninggalkan buaian gila yang sungguh menggilas.
Namun jika ini nyata.
Tarik tanganku untuk menghindar.
Menjauh dan tak lagi kembali pada suramnya belukar.
Yang menjanjikan segenap kelelahan.
Menyisakan sejuta lara.
Namun tak pernah memberikan daya untuk berupaya.
Jika kau temanku, lakukanlah pintaku itu.
Jangan pernah pergi dariku,
Jangan pernah hilang dari ingatanku.
Dan jangan pergi mengaburkan mataku untuk mekihatmu.
Jika kau musuhku, enyahlah dariku
Aku tak mau lagi berjalan bersamamu.
Naskahmu palsu.
Hanya menyesatkanku pada kubangan sendu.
Wahai sajak yang sedang kutulis.
Tuntunlah jemariku yang letih ini.
Bawa aku pada penghujung baitmu.
Bawa pikirku ke alam dimana aku bisa kembali pada Tuhanku.
Menyerahkan segala duka dan memohon segala bentuk bahagia.
Wahai malam yang suram
Bisikkan aku pada cinta agung.
Dengan segenap kesejatiannya yang hakiki.
Bawa aku pulang pada Tuhanku.
Yang telah memberiku kesempatan untuk berpetualang.
Mengenal nada-nada kehidupan.
Terimakasih telah mendengar pintaku malam ini.
Penghujung Agustus ditahun genap 2012 Masehi.